cr: https://id.pinterest.com/pin/914862412955587/
Aku memiliki seorang kakak yang bisa dibilang berbeda dari orang kebanyakan, dia bernama Fadhil Abdullah, aku biasa memanggilnya mas Fadhil dan saat ini dia sudah berumur 19 tahun. Berbeda… hhh kata itu selalu mengganjal dihatiku setiap mengatakan bahwa kakakku berbeda, tidak terima memang kalau aku memiliki kakak yang berbeda dari orang kebanyakan apalagi terkadang bila aku dan keluarga sedang bepergian banyak orang yang melihat dengan tatapan aneh dari ujung rambut ke ujung kaki yang seakan-akan mereka takut tertular. Tapi apa mau dikata, ini sudah menjadi kehendak Tuhan dan juga dia lahir lebih dulu dariku, mana mungkin aku meminta kepada Tuhan untuk mengulang waktu dan memberikanku kakak yang “normal”.
Aku memiliki seorang kakak yang bisa dibilang berbeda dari orang kebanyakan, dia bernama Fadhil Abdullah, aku biasa memanggilnya mas Fadhil dan saat ini dia sudah berumur 19 tahun. Berbeda… hhh kata itu selalu mengganjal dihatiku setiap mengatakan bahwa kakakku berbeda, tidak terima memang kalau aku memiliki kakak yang berbeda dari orang kebanyakan apalagi terkadang bila aku dan keluarga sedang bepergian banyak orang yang melihat dengan tatapan aneh dari ujung rambut ke ujung kaki yang seakan-akan mereka takut tertular. Tapi apa mau dikata, ini sudah menjadi kehendak Tuhan dan juga dia lahir lebih dulu dariku, mana mungkin aku meminta kepada Tuhan untuk mengulang waktu dan memberikanku kakak yang “normal”.
Mensyukurinya… ya aku
hanya bisa mensyukurinya dan terus berdo’a kepada Tuhan agar kakakku selalu
diberi kesehatan lahir dan batin.
Kelainan perkembangan
syaraf merupakan alasan yang membuat kakakku berbeda, kelainan itu lebih
dikenal dengan sebutan autis.
Entah kebetulan atau
memang telah Tuhan lukiskan dalam takdirku kalau aku bersekolah di salah satu
sekolah inklusi di Jakarta yaitu sekolah yang menerima anak ABK (Anak
Berkebutuhan Khusus) seperti autis dan lain-lain, agar aku bisa membantu dan
meneriakkan ke teman-teman apa autis itu sebenarnya.
Intan, Dani dan Mubdi,
ya mereka adalah teman mas Fadhil saat sekolah dasar dahulu. Sekarang mereka
satu sekolah denganku. Aku senang karena setidaknya mereka mendapat kesempatan untuk
terus bersekolah. Walaupun mereka sering mengalami kesulitan menerima dan
memahani pelajaran di kelas. Menurutku sekolah yang tepat untuk anak ABK adalah
sekolah kejuruan, karena bisa menyalurkan bakat dan minat yang dimiliki
masing-masing anak dengan baik.
Contohnya mas Fadhil
dia amat sangat suka melihat peta, sampai-sampai setiap diajak ke toko buku,
petalah yang diambilnya. Dan aku sering menanyakan nama jalan di
Jakarta, dia akan langsung menjawabnya dengan tepat. Itulah kelebihannya.
Marah, hal itu
merupakan hal yang biasa dilakukan anak autis apabila orang-orang disekitarnya
tidak mengerti apa yang dia inginkan. Karena anak autis kesulitan
mengekspresikan apa yang dirasakan. Dan mas Fadhil sering melakukan hal itu
bahkan kadang bisa dibilang menakutkan. Karena dia akan mencubit, memukul dan
bahkan menggigit orang yang ada didekatnya dan dia juga sering menyakiti diri
sendiri.
Pernah suatu ketika,
saat aku dan keluarga sedang bersantai, tiba-tiba tanpa sebab yang jelas mas
Fadhil berteriak.
“WAAAAAAAAAAAAAAAAAA.” Teriak mas Fadhil seraya
memukul jendela rumah.
“Fadhil, kamu kenapa nak?.” Tanya Ibu.
Saat ditanya seperti
itu, mas Fadhil justru tambah marah dan kembali berteriak sambil memukul kaca
jendela berulang kali.
“PRANGGGGGGGG” Tiba-tiba terdengar suara kaca pecah,
kamipun terkejut dan segera berlari menuju sumber suara.
“ASTAGFIRULLAH! FADHILLLLLL! Kenapa kamu
memecahkannya nak?, kamu mau apa sih?.”
Kami semua bingung
harus marah atau kasihan, karena kami lihat tangan mas Fadhil sobek dan
mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Ibu cuma bisa mengelus
dada dan menangis sementara Ayah segera membersihkan dan mengobati lukanya. Itu
sering kali terjadi sampai-sampai membuat kami takut.
Walaupun pada awalnya
aku tidak bisa menerima kehadirannya, pada akhirnya aku sadar dan mengucap
syukur kepada Tuhan, karena setiap kejadian pasti selalu ada hikmahnya. Dan
kalau kita mau membuka mata lebar-lebar masih banyak orang diluar sana yang
tidak seberuntung kita. Aku hanya bisa terus berusaha belajar dan belajar untuk
terus mensyukuri apapun yang Tuhan karuniakan kepadaku. “Terimakasih Tuhan,
atas segala yang telah KAU berikan kepadaku sampai detik ini, semoga ujian
apapun yang KAU berikan kepadaku membuatku selalu mensyukurinya.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Ini hasil tulisan satu tahun lalu, saat saya disuruh membuat sebuah cerpen.

No comments:
Post a Comment